
Rangkuman
- Ada banyak pekerjaan di bidang IT dengan gaji besar, mulai dari AI Engineer, Data Scientist, Machine Learning Engineer, Data Engineer, hingga DevOps Engineer, Cloud Architect, Cybersecurity Engineer, dan Software Engineer.
- Besaran gaji di bidang IT dapat memengaruhi pengalaman, tingkat keahlian, spesialisasi, lokasi kerja, perusahaan, industri, serta sertifikasi yang dimiliki.
- Tidak semua pekerjaan IT membutuhkan kemampuan coding yang mendalam. Beberapa profesi lebih berfokus pada analisis, manajemen proyek, komunikasi, atau pemahaman teknologi.
- Technical skill, problem solving, analytical thinking, komunikasi, bahasa Inggris, dan portofolio menjadi beberapa kemampuan yang penting untuk membangun karier di bidang IT.
- Ingin mengembangkan skill dan mempersiapkan karier sebagai DevOps Engineer? Ikuti Bootcamp DevOps Engineer dari Digital Skola dengan 32 sesi pembelajaran dari beginner hingga advanced, dilengkapi pembelajaran hard skill, soft skill, dan fasilitas job connector.
Mencari pekerjaan di bidang IT dengan gaji besar yang punya prospek karier menjanjikan? Bidang IT bisa menjadi pilihan menarik, terutama karena perkembangan teknologi seperti AI, cloud computing, data, dan keamanan siber terus menciptakan kebutuhan terhadap talenta digital di berbagai industri.
Menariknya, karier IT tidak selalu berarti harus menjadi programmer atau jago coding. Ada banyak profesi dengan jalur karier dan spesialisasi berbeda, mulai dari AI Engineer, Data Scientist, dan DevOps Engineer hingga IT Project Manager dan UI/UX Designer.
Lantas, apa saja pekerjaan di bidang IT dengan gaji besar yang bisa kamu pertimbangkan? Skill apa yang dibutuhkan dan apakah semuanya harus bisa coding? Yuk, simak 17 pilihan profesi IT beserta kisaran gaji dan prospek kariernya!

BACA JUGA: 7 Perbedaan Business Intelligence dan Business Analytics: Contoh dan Prospek Kariernya
Apa Saja yang Memengaruhi Besaran Gaji di Bidang IT?

Pernah menemukan lowongan dengan posisi yang sama, tetapi menawarkan gaji yang berbeda? Hal ini juga bisa terjadi di bidang IT. Dua orang dengan jabatan yang sama belum tentu mendapatkan penghasilan yang sama karena ada berbagai faktor yang ikut menentukan nilai seorang profesional di pasar kerja.
Jadi, ketika membahas pekerjaan di bidang IT dengan gaji besar, jangan hanya melihat nama profesinya. Level pengalaman, skill yang dikuasai, spesialisasi, hingga tempat seseorang bekerja juga dapat memengaruhi besaran penghasilan.
Berikut beberapa faktor yang perlu kamu perhatikan:
1. Level dan Pengalaman Kerja
Semakin tinggi pengalaman dan level posisi, umumnya semakin besar pula tanggung jawab yang diberikan. Karena itu, gaji profesional IT biasanya dibedakan berdasarkan level seperti entry level, junior, mid-level, hingga senior.
Seorang junior developer, misalnya, memiliki tanggung jawab yang berbeda dengan senior software engineer atau engineering manager. Perbedaan tanggung jawab tersebut turut memengaruhi kompensasi yang ditawarkan perusahaan.
2. Skill dan Spesialisasi
Skill menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan nilai seorang profesional IT. Selain kemampuan dasar sesuai posisi, spesialisasi pada bidang yang banyak dibutuhkan perusahaan juga dapat membuka peluang kompensasi yang lebih tinggi.
Contohnya, skill di bidang AI, machine learning, cloud computing, data, cybersecurity, dan DevOps semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap teknologi tersebut.
3. Jenis Industri dan Perusahaan
Besaran gaji juga dapat berbeda berdasarkan industri dan skala perusahaan. Perusahaan teknologi, perbankan, e-commerce, konsultan, hingga perusahaan multinasional dapat memiliki standar kompensasi yang berbeda untuk posisi IT yang sama.
Selain gaji pokok, perusahaan juga bisa menawarkan berbagai bentuk kompensasi lain, seperti bonus, tunjangan, asuransi, atau fasilitas kerja.
4. Lokasi Kerja
Lokasi juga dapat memengaruhi tingkat kompensasi. Perusahaan yang beroperasi di kota atau wilayah dengan biaya hidup dan standar upah yang lebih tinggi umumnya memiliki rentang gaji yang berbeda dibandingkan perusahaan di daerah lain.
Selain itu, perkembangan kerja remote membuat profesional IT memiliki kesempatan untuk bekerja dengan perusahaan dari wilayah atau bahkan negara lain tanpa harus selalu berpindah tempat tinggal.
5. Pendidikan dan Sertifikasi
Latar belakang pendidikan dapat menjadi salah satu pertimbangan perusahaan, terutama untuk posisi yang membutuhkan pengetahuan teknis tertentu. Namun, pendidikan bukan satu-satunya faktor yang menentukan gaji.
Sertifikasi profesional juga dapat membantu menunjukkan penguasaan skill tertentu, terutama pada bidang seperti cloud, cybersecurity, data, dan teknologi lainnya. Meski begitu, nilai sertifikasi akan semakin kuat jika didukung pengalaman dan portofolio yang relevan.
6. Tingkat Tanggung Jawab dan Kompleksitas Pekerjaan
Semakin kompleks masalah yang harus ditangani dan semakin besar dampak pekerjaan terhadap bisnis, semakin tinggi pula tuntutan skill dan tanggung jawabnya.
Misalnya, seorang DevOps Engineer dapat bertanggung jawab terhadap infrastruktur dan proses deployment aplikasi, sementara AI Engineer dapat terlibat dalam membangun dan menerapkan sistem AI untuk kebutuhan bisnis. Tanggung jawab seperti ini membutuhkan kombinasi skill teknis, problem solving, dan pemahaman terhadap kebutuhan perusahaan.
BACA JUGA: 15+ Daftar Pekerjaan Paling Dicari di Indonesia Beserta Gaji dan Skill yang Dibutuhkan
Apa Saja 17 Pekerjaan di Bidang IT dengan Gaji Besar?

Setelah mengetahui faktor yang memengaruhi besaran gaji, sekarang saatnya melihat berbagai profesi IT yang bisa kamu pertimbangkan. Mulai dari AI, data, cloud, cybersecurity, hingga software development, setiap profesi memiliki tanggung jawab dan skill yang berbeda.
Berikut 17 pekerjaan di bidang IT dengan gaji besar yang bisa menjadi pilihan karier:
1. Data Scientist
Gaji: Sekitar Rp8,35–11,35 juta per bulan di Indonesia. Di Jakarta Selatan, rata-rata gaji yang tercantum mencapai sekitar Rp17 juta per bulan.
Data Scientist bertugas mengolah dan menganalisis data untuk menemukan pola, insight, atau prediksi yang dapat membantu perusahaan mengambil keputusan. Pekerjaannya mencakup pengumpulan data, analisis statistik, pembuatan model prediktif, hingga penyajian hasil analisis.
Skill yang perlu dikuasai antara lain Python, SQL, statistik, data visualization, machine learning, dan kemampuan memahami kebutuhan bisnis.
2. AI Engineer
Gaji: Sekitar Rp9,2–15,2 juta per bulan di Jakarta berdasarkan data Glassdoor 2026.
AI Engineer bertugas mengembangkan dan menerapkan solusi berbasis kecerdasan buatan ke dalam produk atau proses bisnis. Pekerjaannya dapat mencakup pengembangan model AI, integrasi AI ke aplikasi, hingga penerapan machine learning dan generative AI.
Skill yang perlu dikuasai antara lain Python, machine learning, deep learning, API, cloud computing, dan LLM. Pemahaman mengenai data dan problem solving juga penting.
3. Machine Learning Engineer
Gaji: Sekitar Rp8,3–28,9 juta per bulan di Jakarta berdasarkan rentang gaji yang dilaporkan Glassdoor pada 2026.
Machine Learning Engineer berfokus pada pengembangan, pengujian, dan penerapan model machine learning ke dalam sistem yang dapat digunakan secara nyata. Perannya lebih banyak berkaitan dengan sisi engineering, deployment, dan pengelolaan model di lingkungan produksi.
Skill yang perlu dikuasai antara lain Python, machine learning, TensorFlow atau PyTorch, data processing, model deployment, serta pemahaman mengenai cloud dan MLOps.
4. Data Engineer
Gaji: Sekitar Rp8–11 juta per bulan di Indonesia. Di Jakarta Utara, rata-rata gaji yang tercantum mencapai sekitar Rp19 juta per bulan.
Data Engineer bertugas membangun dan mengelola sistem untuk mengumpulkan, menyimpan, serta memproses data. Mereka memastikan data tersedia dalam format yang siap digunakan oleh Data Scientist, Data Analyst, maupun tim bisnis.
Skill yang perlu dikuasai antara lain SQL, Python, database, ETL, data warehouse, cloud computing, dan teknologi data pipeline.
5. DevOps Engineer
Gaji: Sekitar Rp7–10 juta per bulan di Indonesia. Di Jakarta Selatan, rata-rata gaji yang tercantum mencapai sekitar Rp15 juta per bulan.
DevOps Engineer membantu menghubungkan proses pengembangan software dengan operasional dan infrastruktur. Tugasnya mencakup proses deployment, automation, monitoring, serta memastikan aplikasi dapat berjalan secara stabil dan efisien.
Skill yang perlu dikuasai antara lain Linux, Git, Docker, Kubernetes, CI/CD, cloud computing, dan automation.
6. Cloud Engineer
Gaji: Sekitar Rp6,8–16,4 juta per bulan di Jakarta berdasarkan data Glassdoor 2026.
Cloud Engineer bertugas membangun, mengelola, dan mengoptimalkan infrastruktur berbasis cloud. Mereka dapat menangani proses migrasi, konfigurasi, monitoring, hingga memastikan infrastruktur cloud berjalan aman dan efisien.
Skill yang perlu dikuasai antara lain AWS, Google Cloud, Microsoft Azure, networking, Linux, cloud security, dan automation.
7. Cloud Architect
Gaji: Sekitar Rp15–35 juta per bulan untuk posisi Cloud Architect atau Cloud Solution Architect di Jakarta, tergantung perusahaan dan tingkat pengalaman. Data Glassdoor menunjukkan beberapa perusahaan menawarkan kompensasi sekitar Rp14–37 juta per bulan untuk role Cloud Solution Architect.
Cloud Architect bertugas merancang arsitektur dan strategi cloud perusahaan. Mereka menentukan teknologi, infrastruktur, sistem keamanan, serta pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis dan teknis perusahaan.
Skill yang perlu dikuasai antara lain cloud architecture, AWS/Azure/Google Cloud, networking, security, scalability, dan cost optimization.
8. Cybersecurity Engineer
Gaji: Sekitar Rp12–25 juta per bulan untuk level menengah berdasarkan kisaran profesi Security Engineer di Indonesia pada 2026.
Cybersecurity Engineer bertugas melindungi sistem, jaringan, aplikasi, dan data perusahaan dari berbagai ancaman keamanan. Tanggung jawabnya dapat mencakup pemantauan sistem, analisis kerentanan, pengujian keamanan, hingga penanganan insiden.
Skill yang perlu dikuasai antara lain networking, Linux, information security, penetration testing, security monitoring, dan incident response.
9. Software Engineer
Gaji: Sekitar Rp7–30 juta+ per bulan, tergantung pengalaman, lokasi, industri, dan perusahaan.
Software Engineer bertugas merancang, mengembangkan, menguji, dan memelihara software sesuai kebutuhan pengguna maupun bisnis. Profesi ini dapat berkembang ke berbagai spesialisasi, seperti backend, frontend, mobile, hingga software architecture.
Skill yang perlu dikuasai antara lain programming, algoritma, struktur data, database, version control, dan software development lifecycle.
10. Software Architect
Gaji: Sekitar Rp12–25 juta per bulan untuk posisi dengan pengalaman dan tanggung jawab arsitektur sistem yang lebih tinggi.
Software Architect bertugas menentukan struktur dan desain teknis sebuah sistem atau aplikasi. Mereka membuat keputusan mengenai arsitektur, teknologi, platform, tools, dan standar teknis yang digunakan dalam proses pengembangan.
Skill yang perlu dikuasai antara lain software architecture, programming, system design, database, cloud computing, serta kemampuan komunikasi dan pengambilan keputusan.
11. Full-Stack Developer
Gaji: Sekitar Rp7–15 juta per bulan, dengan peluang lebih tinggi untuk posisi senior dan perusahaan tertentu.
Full-Stack Developer merupakan developer yang menguasai sisi frontend sekaligus backend. Karena menangani berbagai bagian dalam pengembangan aplikasi, profesi ini membutuhkan pemahaman yang luas dari sisi tampilan hingga sistem di belakang aplikasi.
Skill yang perlu dikuasai antara lain HTML, CSS, JavaScript, framework frontend, backend programming, database, API, dan Git.
12. Backend Developer
Gaji: Sekitar Rp7–15 juta per bulan, tergantung pengalaman, perusahaan, dan kompleksitas sistem yang ditangani.
Backend Developer bertanggung jawab terhadap bagian belakang aplikasi, termasuk logika bisnis, database, API, autentikasi, dan proses pertukaran data. Mereka memastikan sistem dapat bekerja dengan baik di balik tampilan yang digunakan pengguna.
Skill yang perlu dikuasai antara lain Java, Python, PHP, Node.js, SQL, REST API, serta database dan arsitektur aplikasi.
13. Frontend Developer
Gaji: Sekitar Rp7–15 juta per bulan, tergantung pengalaman, lokasi, dan perusahaan.
Frontend Developer bertugas membangun tampilan dan interaksi yang digunakan langsung oleh pengguna ketika mengakses website atau aplikasi. Mereka juga memastikan tampilan dapat berjalan dengan baik di berbagai perangkat.
Skill yang perlu dikuasai antara lain HTML, CSS, JavaScript, React atau framework sejenis, responsive design, serta pemahaman dasar mengenai UI/UX.
14. Mobile App Developer
Gaji: Sekitar Rp7–15 juta per bulan, dengan peluang lebih tinggi untuk developer berpengalaman dan spesialis.
Mobile App Developer bertugas mengembangkan aplikasi untuk perangkat Android maupun iOS. Mereka memastikan aplikasi dapat berjalan dengan baik, responsif, aman, dan sesuai kebutuhan pengguna.
Skill yang perlu dikuasai antara lain Kotlin, Java, Swift, Flutter, React Native, serta API dan mobile application architecture.
15. QA Engineer
Gaji: Sekitar Rp7,5–15 juta per bulan, tergantung pengalaman dan spesialisasi, terutama untuk posisi yang membutuhkan kemampuan test automation.
QA Engineer bertugas memastikan software bekerja sesuai kebutuhan dan memiliki kualitas yang baik sebelum digunakan oleh pengguna. Tanggung jawabnya mencakup pembuatan test case, pengujian fitur, menemukan bug, hingga memastikan masalah dapat diperbaiki sebelum produk dirilis.
Skill yang perlu dikuasai antara lain software testing, test case design, API testing, SQL, serta testing tools seperti Selenium atau Playwright.
16. Business Intelligence Analyst
Gaji: Sekitar Rp8–15 juta per bulan, tergantung pengalaman, perusahaan, dan kemampuan teknis.
Business Intelligence Analyst bertugas mengolah data menjadi laporan, dashboard, dan insight yang dapat membantu perusahaan memahami kondisi bisnis serta mengambil keputusan. Profesi ini menjadi penghubung antara data dan kebutuhan bisnis.
Skill yang perlu dikuasai antara lain SQL, Excel, data visualization, Power BI atau Tableau, serta kemampuan analisis dan komunikasi.
17. IT Project Manager
Gaji: Sekitar Rp10–20 juta per bulan, tergantung pengalaman, skala proyek, dan perusahaan.
IT Project Manager bertugas memastikan proyek teknologi berjalan sesuai target, mulai dari perencanaan, pembagian tugas, pengelolaan timeline, anggaran, hingga koordinasi antara tim teknis dan stakeholder.
Skill yang perlu dikuasai antara lain project management, komunikasi, leadership, problem solving, dan pemahaman dasar mengenai teknologi serta metode seperti Agile atau Scrum.
BACA JUGA: Data Security: Definisi, Jenis, dan Manfaatnya untuk Bisnis
Apakah Semua Pekerjaan di Bidang IT Harus Bisa Coding?

Tidak semua pekerjaan di bidang IT mengharuskan kamu memiliki kemampuan coding yang mendalam. Kebutuhan coding biasanya bergantung pada posisi dan tanggung jawab yang dijalankan.
Profesi seperti Software Engineer, Full-Stack Developer, Backend Developer, AI Engineer, dan Machine Learning Engineer membutuhkan kemampuan coding yang cukup kuat karena berkaitan langsung dengan pengembangan software atau sistem. Sementara itu, profesi seperti IT Project Manager dan Business Intelligence Analyst lebih banyak membutuhkan kemampuan analisis, komunikasi, dan pemahaman teknologi.
Namun, bukan berarti pekerjaan yang minim coding sama sekali tidak membutuhkan pemahaman teknis. Memahami dasar-dasar teknologi seperti database, software development, cloud, atau sistem IT tetap menjadi nilai tambah dan dapat membantumu berkolaborasi dengan tim teknis.
Jadi, tidak bisa coding bukan berarti kamu tidak bisa berkarier di bidang IT. Kamu bisa memilih profesi yang sesuai dengan minat dan kemampuan, kemudian fokus mengembangkan skill yang memang dibutuhkan untuk posisi tersebut.
BACA JUGA: 6 Siklus Hidup DevOps dan Praktik Baiknya
Skill Apa yang Dibutuhkan untuk Mendapatkan Pekerjaan IT dengan Gaji Besar?

Mendapatkan pekerjaan IT dengan gaji besar tidak hanya bergantung pada posisi yang kamu pilih. Semakin relevan dan spesifik skill yang kamu miliki, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan posisi dengan tanggung jawab dan kompensasi yang lebih tinggi.
1. Technical Skill
Setiap profesi IT membutuhkan technical skill yang berbeda. Misalnya, Data Scientist perlu menguasai Python, SQL, statistik, dan machine learning, sedangkan DevOps Engineer membutuhkan kemampuan Linux, Docker, Kubernetes, CI/CD, dan cloud.
Karena itu, kamu tidak perlu menguasai semua teknologi sekaligus. Tentukan bidang yang ingin ditekuni, lalu fokus membangun skill yang paling relevan dengan posisi tersebut.
2. Problem Solving dan Analytical Thinking
Pekerja IT tidak hanya dituntut bisa menggunakan tools, tetapi juga mampu menganalisis masalah dan menemukan solusi yang efektif. Kemampuan ini penting ketika kamu harus mencari penyebab error, mengolah data, atau menentukan solusi untuk kebutuhan bisnis.
3. Communication Skill
Kemampuan teknis perlu diimbangi dengan komunikasi yang baik. Dalam pekerjaan, kamu akan berkolaborasi dengan sesama tim, atasan, klien, maupun stakeholder dari divisi lain.
Kemampuan menjelaskan hal teknis dengan bahasa yang mudah dipahami juga semakin penting ketika kamu berkembang ke posisi yang lebih senior.
4. Bahasa Inggris
Banyak dokumentasi teknologi, tools, kursus, dan referensi IT tersedia dalam bahasa Inggris. Karena itu, kemampuan memahami bahasa Inggris dapat membantumu belajar lebih cepat sekaligus membuka peluang untuk bekerja dengan perusahaan atau tim global.
5. Bangun Portofolio
Terakhir, jangan hanya mengandalkan sertifikat. Bangun portofolio yang menunjukkan bagaimana kamu menerapkan skill dalam proyek nyata.
Untuk pemula, kamu bisa memulainya dari proyek sederhana sesuai bidang yang dipilih, kemudian mengembangkan proyek yang lebih kompleks seiring bertambahnya kemampuan. Dengan begitu, recruiter tidak hanya melihat apa yang kamu pelajari, tetapi juga apa yang bisa kamu kerjakan.
BACA JUGA: Apa itu Load Testing: Tujuan, Cara Kerja, dan Cara Melakukannya
Kesimpulan
Ada banyak pilihan pekerjaan di bidang IT dengan gaji besar, mulai dari Data Scientist, AI Engineer, dan Machine Learning Engineer hingga DevOps Engineer, Cloud Architect, Software Engineer, dan IT Project Manager. Setiap profesi memiliki tanggung jawab dan kebutuhan skill yang berbeda, sehingga penting untuk memilih bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuanmu.
Gaji yang besar juga tidak datang hanya dari jabatan. Pengalaman, spesialisasi, kemampuan teknis, portofolio, dan kemampuan menyelesaikan masalah turut memengaruhi peluang mendapatkan kompensasi yang lebih tinggi. Jadi, kalau kamu ingin membangun karier di bidang IT, mulai tentukan bidang yang ingin ditekuni dan fokus mengembangkan skill yang relevan.
BACA JUGA: 15+ Daftar Pekerjaan Paling Dicari di Indonesia Beserta Gaji dan Skill yang Dibutuhkan

Sudah Menentukan Bidang IT yang Ingin Ditekuni? Mulai bersama Digital Skola!

Mengetahui berbagai pilihan pekerjaan di bidang IT dengan gaji besar tentu baru langkah awal. Selanjutnya, kamu perlu menentukan bidang yang sesuai dengan minat dan mulai membangun skill yang dibutuhkan secara bertahap.
Kalau kamu tertarik dengan bidang yang menggabungkan software development, infrastructure, automation, dan cloud, DevOps Engineer bisa menjadi salah satu pilihan karier yang menarik. Untuk membantumu mempersiapkan skill dari beginner hingga advance, Digital Skola menyediakan Bootcamp DevOps Engineer dengan 32 sesi kelas yang dilengkapi pembelajaran hard skill, soft skill, dan fasilitas job connector.
Yuk, upgrade skill DevOps dan mulai persiapkan karier IT-mu bersama Digital Skola!
FAQ
1. Apa pekerjaan IT dengan gaji paling besar?
Beberapa pekerjaan IT dengan potensi gaji tinggi antara lain AI Engineer, Machine Learning Engineer, Data Scientist, Cloud Architect, DevOps Engineer, dan Software Architect. Besaran gaji tetap dipengaruhi pengalaman, skill, perusahaan, dan lokasi kerja.
2. Apakah kerja di bidang IT harus bisa coding?
Tidak semua pekerjaan IT membutuhkan kemampuan coding yang mendalam. Profesi seperti Software Engineer membutuhkan coding, sementara IT Project Manager atau Business Intelligence Analyst lebih banyak membutuhkan kemampuan analisis dan komunikasi.
3. Apakah lulusan non-IT bisa bekerja di bidang IT?
Bisa. Lulusan non-IT dapat beralih ke bidang IT dengan mempelajari skill yang sesuai, mengikuti pelatihan, dan membangun portofolio untuk membuktikan kemampuan.